Rabu, 11 Agustus 2010

alkohol

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Senyawa Alkohol
Dalam kimia, alkohol (atau alkanol) adalah istilah yang umum untuk senyawa organik apa pun yang memiliki gugus hidroksil (-OH) yang terikat pada atom karbon, yang ia sendiri terikat pada atom hidrogen dan/atau atom karbon lain
1.Rumus Umum
Senyawa alkohol atau alkanol dapat dikatakan senyawa alkana yang satu atom H–nya diganti dengan gugus –OH (hidroksil). Sehingga seperti terlihat pada tabel 4.1 rumus umum senyawa alkohol adalah R–OH dimana R adalah gugus alkil. Untuk itu rumus umum golongan senyawa alkohol juga dapat ditulis CnH2n+1–OH
Contoh :
Tabel 5.1
GUGUS ALKIL DAN RUMUS MOLEKUL ALKOHOLNYA
Untuk Nilai “ n “ R Rumus Molekul Alkohol
1 CH3 CH3– OH
2 C2H5 C2H5– OH
3 C3H7 C3H7– OH
2.Tata Nama
Penamaan senyawa alkohol prinsipnya ada dua cara yaitu :
1) Dengan aturan IUPAC yaitu menggunakan nama senyawa alkananya dengan mengganti akiran “ ana “ dalam alkana menjadi “ anol “ dalam alkoholnya.
2) Dengan sistem Trivial yaitu dengan menyebutkan nama gugus alkilnya diikuti kata alkohol.
Contoh :
Tabel 5.2
CONTOH PENAMAAN ALKOHOL
Rumus Molekul Nama IUPAC Nama Trivial
CH3– OH Metanol Metil alkohol
C2H5– OH Etanol Etil alkohol
C3H7– OH Propanol Propil alkohol
C4H9– OH Butanol Butil alkohol
Untuk senyawa–senyawa alkohol dengan rumus struktur bercabang aturan
penamaannya adalah sebagai berikut :
a. Tetapkan rantai utama dengan cara memilih deretan C paling panjang yang mengikat gugus fungsi –OH , kemudian beri nama sesuai nama alkoholnya. (lihat tabel 5.2)
b. Pemberian nomor pada rantai utama dimulai dari ujung yang memberikan nomor terkecil bagi atom C yang mengikat gugus –OH. Langkah selanjutnya sama dengan penamaan senyawa – senyawa hidrokarbon (terdahulu) Contoh :
OH
|
a) H3C – CH – CH -CH2– CH2– CH3
|
CH2
|
CH2
|
CH3
Nama yang betul :
2 Propil 3 Heksanol
(rantai utama dipilih yang 6C bukan 7C karena jika dipilih 7C gugus –OH nya tidak ikut).
CH3
|
b) CH3– CH – CH – CH3
|
OH
Nama yang betul :
3 metil 2 butanol
bukan
2 metil 3 butanol
(ingat aturan 2)
B. Penggolongan Senyawa Alkohol
Berdasarkan jenis atom karbon yang mengikat gugus –OH, alkohol dibedakan atas alkohol primer, alkohol sekunder, dan alkohol tersier. Dalam alkohol primer gugus –OH terikat pada atom karbon primer, pada alkohol sekunder, gugus –OH terikat pada atom karbon sekunder, begitu pula pada alkohol tersier, gugus –OH terikat pada atom karbon tersier. Seperti contoh berikut:



Berdasarkan jumlah gugus fungsinya alkohol dibedakan menjadi alcohol monovalen dan alkohol polivalen.
a) Alkohol monovalen adalah alkohol yang hanya mempunyai satu gugus fungsional –OH.
Contoh :Etanol,Proponal
b) Alkohol polivalen adalah jenis senyawa alkohol yang mempunyai gugus fungsional
lebih dari satu.
Contoh|; Etandiol ,Propantriol (gliserol)
C.Sifat – Sifat Alkohol
Secara umum senyawa alkohol mempunyai beberapat sifat, sebagai berikut :
1) Mudah terbakar
2) Mudah bercampur dengan air
3) Bentuk fasa pada suhu ruang :
• dengan C 1 s/d 4 berupa gas atau cair
• dengan C 5 s/d 9 berupa cairan kental seperti minyak
• dengan C 10 atau lebih berupa zat padat
4) Pada umumnya alkohol mempunyai titik didih yang cukup tinggi dibandingkan alkananya. Hal ini disebabkan adanya ikatan hidrogen atas molekulnya.
PEMBUATAN ALKOHOL
a) Metanol
Metanol adalah jenis alkohol yang bersifat racun keras, dapat menyebabkan kebutaan dan kematian. Metanol biasanya dibuat dan campuran CO dan H2 menggunakan katalis ZnO atau Cr2O3pada suhu 4000C dan tekanan 200 atm.
b) Etanol
dengan metanol etanol merupakan senyawa alkohol yang tidak bersifat racun.
Etanol dapat dibuat dari fermentasi karbohidrat.

BEBERAPA REAKSI SPESIFIK DARI ALKOHOL
a) Reaksi dengan logam aktif
Atom H dari gugus –OH dapat disubstitusi oleh logam aktif seperti natrium dan kalium, membentuk alkoksida dan gas hidrogen. Reaksi ini mirip dengan reaksi natrium dengan air, tetapi reaksi dengan air berlangsung lebih cepat. Reaksi ini menunjukkan bahwa alkohol bersifat sebagai asam lemah (lebih lemah daripada air).


b) Substitusi Gugus –OH oleh Halogen
Gugus –OH alkohol dapat disubstitusi oleh atom halogen bila direaksikan dengan pekat, PX3 atau PX5 (X= halogen).
Contoh:




c) Oksidasi Alkohol
Alkohol sederhana mudah terbakar membentuk gas karbon dioksida dan uap air. karena itu, etanol digunakan sebagai bahan bakar spirtus (spiritus). Reaksi pembakaran etanol, berlangsung sebagai berikut:

Dengan zat-zat pengoksidasi sedang, seperti larutan K2Cr2O7 dalam lingkungan asam, teroksidasi sebagai berikut:
• Alkohol primer membentuk aldehida dan dapat teroksidasi lebih lanjut membentuk asam karboksilat.
• Alkohol sekunder membentuk keton.
• Alkohol tersier tidak teroksidasi.
Reaksi oksidasi etanol dapat dianggap berlangsung sebagai berikut:



Etanal yang dihasilkan dapat teroksidasi lebih lanjut membentuk asam asetat. Hal ini terjadi karena oksidasi aldehida lebih mudah daripada oksidasi alkohol.


d) Pembentukan Ester (Esterifikasi)
Alkohol bereaksi dengan asam karboksilat membentuk ester dan air.

Animasi esterifikasi

e) Dehidrasi Alkohol
Jika alkohol dipanaskan bersama asam sulfat pekat akan mengalami dehidrasi (melepas molekul air) membentuk eter atau alkena. Pemanasan pada suhu sekitar 1300C menghasilkan eter, sedangkan pemanasan pada suhu sekitar 1800C menghasilkan alkena. Reaksi dehidrasi etanol berlangsung sebagai berikut:


PENGGUNAAN ALKOHOL
Beberapa penggunaan senyawa alkohol dalam kehidupan sehari-hari antara lain :
1) Pada umumnya alkohol digunakan sebagai pelarut.
Misal : lak dan vernis
2) Etanol dengan kadar 76% digunakan sebagai zat antiseptik.
3)Etanol juga banyak sebagai bahan pembuat plastik, bahan peledak, kosmestik.
4) Campuran etanol dengan metanol digunakan sebagai bahan bakar yang biasa dikenal
dengan nama Spirtus.
5) Etanol banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan minuman keras


D. Pemisahan Senyawa Golongan Alkohol
Distilasi atau penyulingan adalah suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan perbedaan kecepatan atau kemudahan menguap (volatilitas) bahan. [1]
Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. [1] Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. [1]
Metode ini termasuk sebagai unit operasi kimia jenis perpindahan massa. [2]. Penerapan proses ini didasarkan pada teori bahwa pada suatu larutan, masing-masing komponen akan menguap pada titik didihnya. [2] Model ideal distilasi didasarkan pada Hukum Raoult dan Hukum Dalton. [2]
Bagan


Bagan perlengkapan distilasi di laboratorium
Berikut adalah susunan rangkaian alat ditilasi sederhana:
• 1. wadah air
• 2. labu distilasi
• 3. sambungan
• 4. termometer
• 5. kondensor
• 6. aliran masuk air dingin
• 7. aliran keluar air dingin
• 8. labu distilat
• 9. lubang udara
• 10. tempat keluarnya distilat
• 13. penangas
• 14. air penangas
• 15. larutan
• 16. wadah labu distilat
E Identifikasi Gol.Alkohol (Farmasi)
Pendahuluan
Adanya gugus-OH atau hidroksil adalah ciri khas alkohol dan fenol. Tergantung pada sifat atom karbon tempat gugus OH melekat, alkohol digolongkan menjadi tiga kelas, yaitu : alkohol primer, alkohol sekunder dan alkohol tersier.

Contoh: Lebih dari satu gugus-OH bisa terdapat dalam satu molekul, senyawa ini dinamakan alkohol polihidrat. 1,2,3-propanatriol (gliserol)
Metanol dikenal sebagai alkohol kayu karena dapat dihasilkan melalui penyulingan destruktif kayu. Senyawa ini sangat beracun dan dapat menyebabkan buta dan kematian jika ditelan. Etanol adalah alkohol biasa. Etanol diperoleh melalui peragian tetes (sisa pemurnian gula tebu), atau dari bahan lain yang mengandung gula alam. Contoh alkohol senyawa alifatik lainnya adalah gliserol (gliserin) CH¬2OHCHOHCH2OH yang secara komersial diperoleh dari pembuatan sabun. Rasanya manis seperti sirup dan bercampur dengan air dalam segala perbandingan. Karena kemampuannya menyerap air, bahan ini dapat digunakan sebagai pelembab dan pelembut, sehingga sering dicampurkan dalam lotion dan kosmetik, selain untuk mempertahankan kelembaban pada tembakau dan permen.

Identifikasi
Alat dan Bahan
Peralatan yang diperlukan dalan identifikasi adalah : rak tabung reaksi, tabung reaksi, lampu spiritus, pipet tetes, penjepit tabung, mikroskop, objek glass dan cover glass.
Bahan yang diperlukan: aquadest, kloroform, eter, NaOH 5%, HCl 5%, perekasi Lucas, Diazo A dan B, asam salisilat, H2SO4 pkt dan larutan l2.



Uji Pendahuluan
Metanol
a. Uji Organoleptis : bentuk, bau, rasa, warna, kelarutan, flouresensi, pengarangan
b. Konfirmasi identitas:
• Uji lucas (ZnCl2 + HCl)
Zat + pereaksi lucas:
o Alkohol primer = larutan jernih
o Alkohol sekunder = larutan keruh
o Alkohol tersier = endapan tak larut
• Reaksi golongan (umum ): Reaksi diazo
Zat merah prambos (tidak dapat+ Diazo A + Diazo B (4:1) + NaOH, panaskan ditarik dengan amil alkohol)
• Reaksi spesifik
a. reaksi esterifikasi (+)
bauzat + asam salisilat + H2SO4 pekat , panaskan metil salisilat (gandapura / Wintergreen oil)
b. Reaksi lodoform (+) ----> (Kristal Iodoform)
Zat + NaOH + larutan I2 lebih endapan kuning, bau iodoform, endapan dilihat dibanyak, panaskan bawah mikroskop.

Etanol
a. Uji Organoleptis : bentuk, bau, rasa, warna, kelarutan, flouresensi, pengarangan
b. Konfirmasi identitas:
• Uji lucas (ZnCl2 + HCl)
Zat + pereaksi lucas:
o Alkohol primer = larutan jernih
o Alkohol sekunder = larutan keruh
o Alkohol tersier = endapan tak larut
• Reaksi golongan (umum ): Reaksi diazo
Zat + merah prambos (tidak dapatDiazo A + Diazo B (4:1) + NaOH, panaskan ditarik dengan amil alkohol)
• Reaksi spesifik
a. reaksi esterifikasi (+)
zat + asam asetat + H2SO4 pkt, bau etilpanaskan asetat / cutex
zat + asam benzoat + H2SO4 pkt, baupanaskan prambos
b. Reaksi lodoform (+) ----> (Kristal Iodoform)
Zat + endapan kuning, bau iodoform,NaOH + larutan I2 lebih banyak, panaskan endapan dilihat di bawah mikroskop.
c. zat + H2SO4 pkt + K2Cr2O7 hijau

Amil alcohol
a. Uji Organoleptis : bentuk, bau, rasa, warna, kelarutan, flouresensi, pengarangan
b. Konfirmasi identitas:
• Uji lucas (ZnCl2 + HCl)
Zat + pereaksi lucas:
o Alkohol primer = larutan jernih
o Alkohol sekunder = larutan keruh
o Alkohol tersier = endapan tak larut
• Reaksi golongan (umum ): Reaksi diazo
Zat + Diazo A + merah prambos (tidak dapat ditarikDiazo B (4:1) + NaOH, panaskan dengan amil alkohol)
• Reaksi spesifik
a. reaksi esterifikasi (+)
menghasilkan bau yang khas
b. Reaksi lodoform (+)
Zat + DAB + H2SO4 pk jingga coklat
cincin violet, dikocokc. zat + vanilin + H2SO4 pk warna hijaubau durian + air
d. zat + H2SO4 pk + asam tartrat merah anggur.

Gliserin
a. Uji Organoleptis : bentuk, bau, rasa, warna, kelarutan, flouresensi, pengarangan
b. Konfirmasi identitas:
• Uji lucas (ZnCl2 + HCl)
Zat + pereaksi lucas:
o Alkohol primer = larutan jernih
o Alkohol sekunder = larutan keruh
o Alkohol tersier = endapan tak larut
• Reaksi golongan (umum ): Reaksi diazo
Zat + Diazo A + merah prambos (tidak dapat ditarikDiazo B (4 : 1) + NaOH, panaskan dengan amil alkohol)
• Reaksi spesifik
a. reaksi esterifikasi (+)
menghasilkan bau yang khas
b. Reaksi cupril
zat dalam air + CuSO4 1% + NaOH biru tua, dipanaskan tetap biru
c. Reaksi gula
zat + HNO3 dipanaskan lalu didinginkan, encerkan dengan air + Na2CO3 + Luff endapan merah bata

Mentol
a. Uji Organoleptis : bentuk, bau, rasa, warna, kelarutan, flouresensi, pengarangan
b. Konfirmasi identitas:
• Uji lucas (ZnCl2 + HCl)
Zat + pereaksi lucas:
o Alkohol primer = larutan jernih
o Alkohol sekunder = larutan keruh
o Alkohol tersier = endapan tak larut
• Reaksi golongan (umum ): Reaksi diazo
Zat merah prambos (tidak+ Diazo A + Diazo B (4 : 1) + NaOH, panaskan dapat ditarik dengan amil alkohol)
• Reaksi spesifik
a. zat + coklat merah dan bau mentolnya hilang.H2SO4 pkt
b. Zat + H2SO4 pkt violet. hijau violet – jingga kuning, + air + vanilin
c. Zat + hijauasam asetat glasial + H2SO4 pekat

Tidak ada komentar: